Nabi Muhammad diutus oleh Allah SWT untuk menyempurnakan akhlak manusia, perintah ini sekaligus menjadi guide bagi juru dakwah dan umat Islam secara umum. Melalui akhlak ini Rasulullah membangun keadaban, dan tentang keadaban itu bukan benar dan salah, tapi lebih condong tentang baik buruk.

Demikian disampaikan oleh Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir secara daring pada (5/12) di acara Pengajian Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Kepulauan Riau (Kepri) dengan tema Beragama dan Berbangsa yang Mencerahkan. Di era media sosial, penting untuk menguatkan karakter akhlak Rasulullah pada pribadi masing-masing.

Model dakwah yang mengedepankan keadaban juga dicerminkan oleh Nabi Musa AS ketika berdakwah ke Firaun. Meski dikenal sebagai raja yang kejam, namun Nabi Musa dalam mendakwahi Firaun tetap memakai bahasa atau pembicaraan yang lemah lembut (qaulan layyina).

%u201CItu keadaban, jadi tidak ikut brutal seperti Fir%u2019aun. Musa mengajarkan keadaban disamping dengan cara yang cerdas dan lain sebagainya. Bahkan di saat marah, tetap orang Islam tadi kalau ngak bisa bicara baik kata Nabi au liyasmut, kamu diam,%u201D tutur Haedar.

Menjadikan Nabi Muhammad sebagai guide dalam kehidupan, maka umat Islam termasuk ketika dalam keadaan marah harus beda dengan yang lain, lebih-lebih dalam ungkapan lisan. Akan tetapi di era media sosial sekarang, imbuh Haedar, banyak disajikan pilihan bahasa yang tidak lagi hifdzul lisan (menjaga lisan).

Selain itu, wahyu yang diturunkan kepada rasulullah juga untuk menyebarkan rahmat bagi seluruh alam. Sebagai juru dakwah, muslim, dan sebagai tokoh di lingkungan warga Muhammadiyah harus bisa menyebarkan rahmat. Bukan hanya kepada sesama umat Islam, tapi juga kepada non-muslim, dan termasuk kepada lingkungan.

%u201CIslam itu dihadirkan untuk menjadi agama yang membangun keadaban atau akhlak mulia dan menjadi rahmat bagi semesta,%u201D imbuhnya.

Termasuk peran manusia sebagai khalifah di dunia harus menciptakan kemakmuran, bukan malah sebaliknya menciptakan kerusakan di muka bumi. Maka, untuk memaksimalkan perannya sebagai khalifah, manusia harus dibekali ilmu. Ilmu yang dimiliki tersebut sebagai alat untuk menyelesaikan suatu masalah.