Dalam Fikih Kebencanaan yang telah ditanfidz Pimpinan Pusat Muhammadiyah tahun 2018 menyebutkan bahwa bencana secara umum disebabkan oleh faktor kejadian alam (natural disaster) maupun oleh ulah manusia (man-made disaster).

Peristiwa bencana yang ditunjukkan dalam teks al-Quran dan Hadis dapat diklasifikasikan menjadi dua, di antaranya: Pertama, Bencana Alam. Di antara bentuk bencana alam yaitu gempa bumi, letusan gunung api, tsunami, tanah longsor, banjir, dan kekeringan. Kedua, Bencana Non-alam. Di antara bentuk bencana non-alam yaitu: kegagalan teknologi, epidemi/wabah, konflik sosial, dan teror.

Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah menegaskan bahwa bahwa peristiwa alam yang terjadi tidak serta merta dapat disebut sebagai bencana. Suatu kejadian bisa disebut sebagai bencana ketika manusia %u201Csalah memperhitungkan%u201D risiko dari peristiwa tersebut dan mengakibatkan kerugian pada diri atau komunitasnya.

Oleh karena itu, pada dasarnya peristiwa tanah longsor, gunung meletus, banjir, gempa bumi, dan lain-lain bukan merupakan bencana. Karena peristiwa tersebut adalah sebuah fenomena rutin dan siklus alam. Peristiwa tersebut baru dikatakan sebagai bencana bila kita tidak memperhitungkan risiko dengan mempersiapkan diri dengan baik, sehingga kemudian mengakibatkan timbulnya kerusakan, sakit, atau bahkan kehilangan jiwa.